Latar Belakang PUI

Nusa Tenggara Timur merupakan sebuah provinsi yang terlatak dibagian tenggara Indonesia. Provinsi ini disebut sebagai provinsi Kepulauan karena terdiri dari beberpaa pulau, antara lain Pulau Flores, Pulau Sumba, Pulau Timor, Pulau Alor, Pulau Lembata, Pulau Rote, Pulau Sabu, Pulau Adonara, Pulau Solor, Pulau Komodo dan Pulau Palue.

Pembangunan Kesehatan di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) diarahkan untuk meningkatkan kesadaran, kemauan dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang agar terwujud derajat kesehatan masyarakat yang optimal sehingga dapat hidup produktif secara sosial dan ekonomi. Demi mewujudkan derajat kesehatan yang optimal bagi masyarakat, maka upaya kesehatan diselenggarakan dengan memanfaatkan ilmu pengetahuan dan teknologi secara terpadu dan dengan mengutamakan pendekatan: Peningkatan kesehatan (Promotif), pencegahan penyakit (Preventif), penyembuhan penyakit (Kuratif), serta pemulihan kesehatan (Rehabilitatif). Dalam konteks ini maka perlu dilaksanakan secara terintegrasi dan berkesinambungan dengan mengedepankan nilai-nilai pembangunan kesehatan : a) Berpihak pada rakyat; b) Bertindak cepat dan tepat; c) Integritas tinggi; d) Transparansi dan Akuntabilitas; e) Kemitraan atau Sinergisme diantara para pelaku Pembangunan Kesehatan (Profil Kesehatan NTT, 2017).

Gambaran pola 10 penyakit terbesar diwilayah ini sampai dengan tahun 2016 masih menunjukan penyakit ISPA dengan jumlah kasus sebanyak 530.965 kasus menjadi penyakit tertinggi diwilayah ini. Disamping itu, penyakit menular juga masih menjadi masalah kesehatan yang ada di Provinsi ini. Beberapa jenis penyakit menular tersebut diantaranya Penyakit TBC / TB Paru. Berdasarkan data profil kesehatan Kab/Kota tahun 2015 jumlah kasus baru TB Paru BTA + sebesar 3.380 kasus (CNR 66,01 per 100.000) artinya dalam 100.000 penduduk terdapat 66 orang penderita baru TB Paru. Pada tahun 2016 kasus baru TB Paru BTA + sebesar 794 (CNR 15,26 per 100.000 penduduk) yang artinya dalam 100.000 penduduk terdapat 15 orang penderita baru TB Paru. Angka ini menunjukan adanya penurunan kasus baru TB Paru BTA + pada tahun 2016 dan tahun 2017 jumlah kasus baru TB Paru BTA + mengalami peningkatan yang cukup signifikan menjadi 3.598 kasus (CNR 68,05 per 100.000 penduduk), berarti terdapat 68 orang penderita baru yang ditemukan per 100.000 penduduk. Secara statistik mengalami peningatkan jumlah kasus baru sebesar 77,93% di tahun 2017. Selain TB Paru, penyakit filariasis serta penyakit yang berpotensi terhadap Kejadian Luar Biasa seperti Demam Berdarah, Malaria dan diare juga masih terdapat di wilayah ini. Kasus baru Filariasis di Provinsi NTT tahun 2014 hanya ada 1 Kabupaten yang melaporkan kasus Filariasis ini yaitu Kabupaten Manggarai Timur sebanyak 2 kasus, pada tahun 2015 sebesar 68 kasus, pada tahun 2016 tidak ada yang melaporkan (tidak ada penemuan kasus) dan tahun 2017 15 kasus. Kasus DBD di Provinsi NTT dalam periode 4 (empat) tahun terakhir mengalami fluktuasi sejak tahun 2014-2017, pada tahun 2014 sebesar 487 kasus (10 per 100.000 penduduk), pada tahun 2015 meningkat menjadi 665 kasus (13 per 100.000 penduduk), pada tahun 2016 meningkat lagi menjadi 1.213 (23,3 per 100.000 penduduk) dan pada tahun 2017 mengalami penurunan jumlah kasus DBD sebanyak 542 kasus (10,3 per 100.000 penduduk). Untuk penyakit diare, Profil Kesehatan Kabupaten/Kota tahun 2014-2017, menunjukan bahwa penanganan kasus diare 4 (empat) tahun terakhir mengalami fluktuasi yaitu pada tahun 2014 jumlah penderita diare yang ditemukan sebesar 107.790 kasus dan yang ditangani sebesar 86.429 kasus (80,2%), selanjutnya pada tahun 2015 penderita diare yang ditemukan 109.569 kasus dan ditangani sebesar 88.974 (81,2%), pada tahun 2016 penderita diare yang ditemukan sebesar 111.355 kasus, yang ditangani sebanyak 91.938 kasus (82,6%) dan tahun 2017 penderita diare yang ditemukan berjumlah 113.148 kasus, yang ditangani 80.209 kasus (70,9%). Angka kesakitan diare NTT tahun 2017 sebesar 214 kasus per 1.000 penduduk; sedangkan untuk penyakit malaria, berdasarkan laporan Profil Kesehatan Kabupaten/Kota, API mengalami penurunan yang signifikan. Pada periode 2014 -2017 Provinsi NTT memiliki API yang semakin menurun. API Provinsi NTT tahun 2014 sebesar 13,69 ‰ per 1.000 penduduk, pada tahun 2015 menurun menjadi 7,06 ‰ per 1.000 penduduk, tahun 2016 menurun menjadi 5,78 ‰ per 1.000 penduduk dan pada tahun 2017 menurun menjadi 3,77 ‰ per 1.000 penduduk.

Upaya pengendalian penyakit menular juga terus ditekankan ke arah penurunan kasus penyakit melalui pelaksanaan kegiatan surveilans epidemiologi dengan upaya penemuan penderita secara dini yang ditindaklanjuti dengan penanganan secara cepat melalui pengobatan penderita. 

Berbagai upaya telah dilakukan dalam mendukung kegiatan pengendalian di wilayah Nusa Tenggara Timur. Hal ini dilakukan juga oleh Poltekkes Kemenkkes Kupang, baik dalam kegiatan Tri Dharma maupun kegiatan kerjasama dengan Pemerintah maupun Lembaga Swadaya Masyarakat. Tahun 2011, Poltekkes Kemenkes Kupang bekerjasama dengan UNICEF dan Dinas Kesehatan Provinsi NTT mengembangkan Kurikulum Integrasi Malaria, Kesehatan Ibu Anak, dan Imunisasi. Kurikulum ini dipakai oleh beberapa Prodi yang ada di Poltekkes seperti Prodi Keperawatan, Kebidanan, Kesehatan Lingkungan, Farmasi dan Analis Kesehatan dalam menghasilkan lulusan Poltekkes yang berkualitas dalam penanganan dan pengendalian penyakit malaria nantinya. Selain kurikulum integrasi, kegiatan ini juga menghasilkan produk buku terkait Pengendalian Malaria di wilayah Nusa Tenggara Timur.

Pengendalian penyakit perlu terus dilakukan sampai penyakit ini benar – benar bisa dihilangkan. Upaya ini perlu didukung oleh berbagai sumber daya dan potensi yang ada agar dapat menunjukkan indikator keberhasilan yang maksimal.

Keterlibatan berbagai disiplin ilmu dan kompetensi sangat diperlukan dalam pelaksanaan upaya pengendalian ini. Poltekkes Kemenkes Kupang dari aspek Sumber Dayanya dirasakan sudah sangat mendukung dalam pengembangan Pengendalian Penyakit Tropis berbasis kepulauan. Namun hal ini masih belum dilaksanakan secara maksimal karena belum dimilikinya suatu wadah yang benar-benar dapat menjadi pusat kajian upaya pengendalian penyakit tropis di wilayah ini. Setiap program Studi yang ada di Poltekkes Kemenkes Kupang masih secara mandiri melaksanakan kegiatan Tri Dharma terkait pengendalian Tropis tanpa berkolaborasi diantara sesama Prodi. Sebagai contoh Prodi Kesehatan Lingkungan telah melakukan kajian terkait spasial analisis kasus malaria dan juga berbagai tanaman yang bisa dijadikan sebagai bahan repellent vektor malaria. Hasil kajian ini sebenarnya bisa dipakai oleh Prodi yang lain seperti Prodi Farmasi dalam memanfaatkan jenis tanaman tersebut untuk membuat ekstrak dan menjadikannya sebagai produk unggulan yang dimiliki oleh Poltekkes.

Berdasarkan uraian di atas, dan dengan melihat potensi yang dimiliki oleh Poltekkes Kemenkes Kupang maka dirasa perlu untuk melakukan kajian pengembangan pusat pengendalian penyakit tropis berbasis kepulauan baik ditinjau dari aspek kasus penyakit itu sendiri maupun dari aspek pengendalian pengendalian penyakitnya. Hal ini akan sangat terasa optimal manfaatnya jika dilakukan secara terintegrasi dalam upaya mengendalikan berbagai faktor risiko munculnya suatu penyakit.